he’s beutiful

Sekilas Budaya Bali

SEJARAH
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti “Kekuatan”, dan “Bali” berarti “Pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.

DESKRIPSI LOKASI
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

UNSUR – UNSUR BUDAYA

A. BAHASA
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

B. PENGETAHUAN
Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

C. TEKNOLOGI
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

D. ORGANISASI SOSIAL
a). Perkawinan
Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.
Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.
c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

E. MATA PENCAHARIAN
Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan.

F. RELIGI
Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.

G. KESENIAN
Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.

NILAI-NILAI BUDAYA
1. Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya.
2. Nguopin : gotong royong.
3. Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama.
4. Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex.

ASPEK PEMBANGUNAN
Di Bali jenis mata pencahariannya adalah bertani disawah. Mata pencaharian pokok tersebut mulai bergeser pada jenis mata pencaharian non pertanian. Pergeseran ini terjadi karena bahwa pada saat sekarang dengan berkembangnya industri pariwisata di daerah Bali, maka mereka menganggap mulai berkembanglah pula terutama dalam mata pencaharian penduduknya.

Sehingga kebanyakan orang menjual lahannya untuk industri pariwisata yang dirasakan lebih besar dan lebih cepat dinikmati. Pendapatan yang diperoleh saat ini kebanyakan dari mata pencaharian non pertanian, seperti : tukang, sopir, industri, dan kerajinan rumah tangga. Industri kerajinan rumah tangga seperti memimpin usaha selip tepung, selip kelapa, penyosohan beras, usaha bordir atau jahit menjahit.

DAFTAR PUSTAKA

  • Swarsi, Si Luh;1986;Kedudukan Dan Peranan Wanita Pedesaan Daerah Bali;Jakarta: Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan
  • Dhana, I Nyoman;1994;Pembinaan Budaya Dalam Keluarga Daerah Bali;Bali: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Tempat Indah diBali

Kebun Raya dan Pura Ulundanu Bedugul

Bedugul
Jika Bogor punya Kebun Raya Bogor, Bali juga punya kebun Raya. Namanya Kebun Raya Eka Karya, tapi masyarakat Bali lebih suka menyebutnya Kebun Raya Bedugul, karena memang letaknya di Bedugul. Letaknya sekitar 60 km dari Denpasar dan berada di jalur Denpasar – Singaraja dan berada pada ketinggian lebih kurang 1000 meter di atas permukaan laut. Karenanya hawa disini cenderung sejuk dan dingin, disertai kabut pada musim hujan. Dapat ditempuh sekitar 1 jam dari Denpasar atau Kuta.

Jangan terlalu lama beristirahat, masih ada tempat lain di Bedugul yang belum dikunjungi yaitu tiga danau. Danau pertama yang bisa dikunjungi adalah Danau Beratan yang berada di kanan jalan menuju Singaraja. Jaraknya sekitar 300 meter dari Kebun Raya Bedugul. Kita bisa menikmati hanya duduk-duduk di pinggir jalan sebab danau ini berada persis di sebelah jalan. Namun jelas akan lebih baik kalau kita masuk objek wisata ini. Untuk itu kita harus membayar tiket Rp 3.300 termasuk asuransi.

Areal pertama di objek wisata ini adalah taman bermain. Di salah satu bagian terdapat tempat bermain anak-anak berupa ayunan, kursi putar, dan lain-lain. Di sebelah arena bermain ini terdapat restoran yang ketika waktu makan siang, penuh oleh pengunjung karena menyajikan makanan prasmanan. Masih di areal taman, di bagian lain terdapat sebuah Candi Budha berupa stupa setinggi sekitar lima meter yang dikelilingi empat patung Budha di bagian bawah. Hal ini menandakan bagaimana multikulturalisme itu berjalan di Bali sejak dulu. Apalagi persis di sebelah candi Budha itu terdapat Pura Ulun Danu dimana masyarakat Hindu bersembahyang ketika berkunjung ke Bedugul. Selain itu, tidak jauh dari areal Pura Ulun Danu ini terdapat masjid sehingga nuansa multikultur itu semakin terasa. Ini yang membuat Bedugul benar-benar berbeda!

Di sekeliling pura yang menjadi bagian utama, terdapat taman dengan rumput hijau. Pohon-pohon cemara membuat suasana hijau itu bertambah lengkap. Kita bisa berjalan-jalan di trotoar untuk pejaln kaki. Di bagian paling timur dari Pura Ulun Danu ini terdapat dua meru bertumpang solas dan tumpang pitu. Dua meru ini agak terpisah dari daratan sehingga menjadi objek foto yang menarik. Di sebelahnya ada rumpun bambu dimana biasa terdapat orang mancing. Untuk sewa pancing, pengunjung hanya membayar Rp 5.000 sepuasnya. Masih di danau ini, kita bisa naik boat berkeliling Danau Beratan dengan membayar Rp 25.000 sekali keliling atau sekitar 20 menit. Selain naik boat, ada pula pelukis wajah atau potret diri yang melukis wajah hanya dalam waktu 15 menit. Untuk itu kita harus membayar Rp 10.000 per lukisan.

Bedugul, kebun raya bedugul, pura ulundanu, danau beratan, pariwisata bali, bali

Diposkan oleh sandy di 22:01

Label: , , ,

Mitos Indianisasi Dibali

MITOS INDIANISASI
Posted by Aagn Ari Dwipayana on 2007-09-21 dilihat 1829 kali ]ISTILAH Indianisasi baru dikenal mendekati abad ke-19, ketika Raffles mengangkat Indianisasi sebagai topik yang digenari melalui buku ”The History of Java”. Namun, Raffles tidak sendiri, peristiwa yang paling dramatik dalam merumuskan Indianisasi terjadi pada saat segerombolan tentara Inggris yang berasal dari Bangali mencetuskan pemberontakan Sepoy di Jawa Tengah pada tahun 1815 (Denys Lombard: 1996).

Setelah mereka merebut Yogyakarta (pada tahun 1812), beberapa perwira, di antaranya bernama Kapten Dhaugkul Sigh, terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahma dan bahwa Sunan adalah keturunan Rama. Berdasarkan alasan keyakinan keagamaan seperti itu, mereka merumuskan gagasan pemberontakan pada kekuasaan Inggris demi memulihkan kekuasaan Hindu di Jawa. Pemberontakan itu gagal, tetapi peristiwa itu perlu diberi tempat dalam sejarah mitos Indianisasi.

Setelah Raffles, gagasan Indianisasi dilanjutkan oleh para sarjana Belanda, yang beberapa di antaranya ahli bahasa Sansekerta, seperti J.LA Brandes, H. Kern, N.J Korn, dan WF Stutterheim. Pada tahun 1918, ditulis artikel yang terkenal dari George Coodes yang menghidupkan kenangan akan Kerajaan Sriwijaya, dilanjutkan dengan Krom yang menerbitkan tulisannya berjudul ”Hindoe-Javaansche Geschiedenis” (sejarah Hindu-Jawa), pada tahun 1931.

Beberapa sarjana India juga tertarik dengan wacana Indianisasi seperti RC Majumdar dan HB Sarkar. Tetapi yang monumental adalah kunjungan Rabindranath Tagore pada tahun 1930 yang secara jelas menyebutkan bahwa “ia memang merasakan kehadiran India di mana-mana, tetapi tidak sungguh-sungguh menemukannya kembali”.

Bali Kuna

Walaupun bukti-bukti Indianisasi sudah secara meyakinkan disampaikan oleh para sarjana Indolog Inggris dan Belanda, namun ada dua catatan penting yang berkaitan dengan Indianisasi di Indonesia, khususnya di Bali. Pertama, mitos India lebih menjadi fenomena Jawa/Bali Kuna dibandingkan dengan fenomena Bali Majapahit. Disebut Bali Majapahit untuk membedakan dengan Bali kuna, yang memang secara kuat dihubungkan dengan India.

Kedua, Indianisasi tidak sepenuhnya berhasil membangun secara totalitas peradaban India karena Indianisasi harus berhadapan dengan fragmentasi paham keagaman serta masih hidupnya sistem kepercayaan lokal sebelum Indianisasi berkembang. Oleh karena terjadi pola penerimaan dan pertukaran antara peradaban India dengan lokalitas. Bentuk akhirnya bisa bermacam-macam; di Jawa melahirkan Kejawen, di Bali menghasilan sistem beragama yang khas Bali. Ketiga, Indianisasi sangat terkait dengan bangun kekuasaan politik yang menopangnya. Dengan demikian Indianisasi tidak an sich fenomena kebudayaan melainkan juga fenomena politik.

Secara historis, Indianisasi pada masa Buli Kuna dihubungkan dengan kelahiran dan berkembangnya berbagai sekte, mulai dari sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu (Wesnawa), Bayu dan Kala, yang tentu saja mengalami interaksi dengan kepercayaan lokal pada saat itu. Interaksi antara berbagai sekte dengan kepercayaan lokal menyebabkan paham keagamaan yang terbangun tidak sepenuhnya bertahan dalam bentuk aslinya (otentisitas) melainkan mengalami proses silang budaya dengan kepercayaan lokal.

Di samping menghadapi pengalaman dengan kepercayaan lokal, paham keagaman yang bersendikan pada sekte hidup dalam pluralitas yang bisa saja berakhir dengan benturan-benturan paham keagamaan. Dalam konteks seperti itu, sekitar 923 Caka, oleh Mpu Kuturan yang bertindak sebagai Senapati Pakiran-kiran I Jero Makabehan, keberagaman sekte-sekte itu kemudian diakomodasi dalam konsep Tri Kahyangan.

Selain kehadiran sekte-sekte, pengaruh India juga terlihat dari konsep pakraman. Pakraman pada dasarnya sebuah tatanan masyarakat yang hidup dalam tradisi India. Tatanan itu disebut dengan Grama yang artinya tatanan (sekarang di India disebut Grama Penchayat). Di Bali, istilah grama ini diterima menjadi krama dan selanjutnya menjadi pakraman. Dengan demikian, sistem sosial Bali Kuna merupakan reproduksi tatanan sosial di India.

Jejak pengaruh India juga terlihat dalam legenda dan mitologi yang berkembang secara historis pada masa Jawa/ Bali Kuna; Pertama, legenda Aji Saka, yang mengisahkan bagaimana seorang keturunan Brahmana dari India dan menetap di Medang Kemulan. Aji Saka kemudian dikisahkan bisa membangun ketertiban dan peradaban setelah mengalahkan Prabu Baka yang berwatak raksasa (tidak beradab).

Kisah kedua tercantum dalam kitab Tantu Pagelaran. Dalam Tantu Pagelaran diceritakan asal mula Batara Guru yang pergi bersemedi di Gunung Dieng untuk meminta pada Brahma dan Wisnu agar Pulau Jawa diberi penghuni. Akhirnya Brahma menciptakan kaum laki-laki dan Wisnu menciptakan kaum perempuan. Di samping itu dikisahkan juga semua dewa menetap di bumi baru itu dan memindahkan Gunung Meru dari Jambhu Dwipa. Sejak itu gunung yang disebut pinkalalingganingbhuwana itu tertanam di Pulau Jawa. Kisah legenda ketiga adalah kedatangan dinasti Warmadewa yang lebih dihubungkan dengan India dibandingkan dengan Jawa. Walaupun hubungan dengan Jawa akhirnya terbangun ketika putra Udayana, yang bernama Airlangga menjadi menantu Raja Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama di Pulau Jawa dan kemudian memegang kekuasaan atas pulau Jawa.

Proses Indianisasi mengalami kemunduran ketika kuasa politik para Maharaj di India kemudian jatuh ke tangan Sultan-sultan Moghul yang beragama Islam. Kemunduran itu memungkinkan bagi terjadinya bentuk baru dalam pembangunan sistem kepercayaan di wilayah-wilayah yang dahulunya menjadi sasaran Indianisasi. Salah satu bentuk kreasi lokal yang paling nampak dalam sejarah adalah ekspansi sistem keagamaan yang dibawa oleh kekuasaan Majapahit.

Bali Majapahit

Berbeda dengan Bali Kuna yang secara kuat dipengaruhi oleh mitos India, mitos India tidak begitu kuat pengaruhnya di Bali Majapahit, karena Bali Majapahit lebih dekat dengan mitos Jawa. Hal ini nampak dari beberapa teks dan mitologi yang berkembang di Bali, mulai dari kitab Usana Jawa, Usana Bali, Batur Kemulan sampai dengan sejarah Pancaka Tirta. Dalam berbagai kisah mitologi, Gunung Tonglangkir diceritakan sebagai penggalan Gunung Mahameru; Gunung Semeru, Tonglangkir dan Rinjani. Demikian pula dengan asa-usul geneologis; Hyang Putra Jaya, Hyang Gni Jaya dan Dewi Danuh yang bersumber dari Sang Hyang Pasupati yang bersemayam di Gunung Semeru di Pulau Jawa.

Selanjutnya mitos Jawa ini diperkuat oleh kedatangan ekspedisi Gadjah Mada ke Bali yang menempatkan Dinasti Kepakisan sebagai pemegang kekuasaan atas Pulau Bali. Kehadiran bangun kuasa baru ini tidak hanya berpengaruh pada pembentukan tatanan sosial-politik baru yang sering disebut Negara dan desa-desa Apanage (majapahit), namun kemudian menegakan sebuah tafsir keagamaan baru yang hegemonik. Tafsir keagamaan inilah yang kemudian melalui instrumen kekuasaan masuk secara penetratif ke desa-desa Bali Kuna (James Danandjaja:1990).

Namun, penetrasi sistem kepercayaan dominan itu tidak selalu berakibat penghancuran pada sistem agama lokal, kadangkala hubungannya bisa koeksistensi atau bahkan sinkretisme, di mana sistem agama dominan berdampingan dengan sistem agama lokal.

Walaupun demikian, sistem kepercayaan yang dianut oleh pemegang kuasa politik menjadi acuan dari sistem kepercayaan sosial masyarakat Bali keseluruhan. Relasi antara kekuasaan dan bangun paham keagamaan sedemikian kuatnya sehingga keduanya berada dalam hubungan yang mutualistik. Hal ini nampak jelas dalam lontar Widhi Papinjatan dan sebagainya.

Secara geneologis, pemegang kuasa politik di Bali juga cenderung mencari garis pertautan silsilah dengan Jawa bukan dengan India. Misalnya dinasti Kepakisan dan keturunan Dhyang Nirartha dihubungkan dengan Mpu Tantular dan Mpu Bharadah yang memegang peranan politik di Jawa. Demikian pula dengan keturunan para Arya di Bali yang mencari pertautan dengan kekuasaan Jayabhaya di Kediri.

Bali Baru

Dalam konteks Bali baru, Indianisasi tentu saja akan dipahami berbeda dengan Indianisasi pada masa Bali Kuna. Berbeda dengan masa lalu, proses Indianisasi sangat didukung oleh sistem perdagangan global dan pola ekspansi paham keagamaan yang ditopang oleh kekuasaan politik, Indianisasi sangat dibantu oleh globalisasi dan mempunyai banyak wajah.

Bagi kalangan yang pembela sistem beragama dengan kebudayaan lokal, Indianisasi dianggap mengabaikan nilai dan sistem lokal, sehingga dianggap sebagai bentuk gerakan penyeragaman (homogenisasi) cara beragama yang baru. Kritik ini didasarkan atas pengertian Indianisasi sebagai peminjaman acuan tradisi keberagaman yang secara umum digunakan di India untuk diterapkan dalam konteks lokal di luar India.

Namun dalam pengertian yang berbeda, Indianisasi juga dapat dibaca dalam tiga kecenderungan. Pertama, Indianisasi sebagai “anak kandung” dari globalisasi. Dalam globalisasi, keterjarakan ruang dan waktu makin dekat. Apa yang terjadi dalam lingkup lokal tertentu bisa secara cepat “ditiru”, “digandakan” atau sekadar diketahui di dalam lokalitas yang berbeda. Dengan demikian, apa yang menjadi trend keagamaan di India misalnya, secara cepat menjadi “milik” global karena dekatnya jarak ruang dan waktu.

Dalam globalisasi, tidak ada lagi lokal dan global karena yang lokal bisa menjadi global. Demikian pula sebaliknya, yang kita sebuat universal dan global pada dasarnya fenomena lokal.

Kedua, masih berkaitan dengan globalisasi, kecenderungan kembali ke India juga bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan spiritual (new age) terhadap globalisasi yang dirumuskan secara totaliter sebagai modernisasi dan westernisasi. Modernitas dianggap justru menciptakan kekosongan spiritual karena membuat manusia teralienasi (terpinggirkan) dari dirinya sendiri. Acuan-acuan modernitas justru membelenggu manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kebangkitan spiritualisme baru yang menjadi fenomena lokal dan global, pada dasarnya merupakan respons kegagalan modernitas memberikan alternatif peradaban.

Ketiga, kebangkitan spiritualisme baru yang inspirasinya diambil dari India adalah fenomena perlawanan terhadap tatanan sosial-politik dan kultural yang dominatif.

Tatanan sosial yang dominatif seringkali didasarkan atas pijakan-pijakan teologis dari paham keagamaan. Oleh karena itu, spiritualisme baru kemudian berkembang menjadi gerakan purifikasi (pemurnian) paham keagamaan dari bias kepentingan ekonomi-politik.

Akhirnya, seperti juga halnya yang dialami oleh agama-agama lain, Hinduisme mengalami tarik-menarik antara ide universalisme dan lokalitas, serta antara pendekatan purifikasi dan pendekatan budaya. Sejarah agama-agama besar penuh dengan cerita gerakan purifikasi yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dialektika keagamaan dan relasi kuasa.

Dosen FISIPOL UGM

sumber: BaliPost

Tenun Ikat Bali

Tenun Ikat Bali Potensial
Sabtu, 28 Februari 2009 | 21:49 WIB.kompas.com

DENPASAR, SABTU - Kain tenun ikat khas Bali sebagai satu kekayaan bangsa masih sangat potensial dikembangkan dan dicarikan pangsa pasar untuk mendorong kegairahan ekonomi perajin, sekaligus memperkaya rancangan motif, teknik pembuatan, dan jenis tekstil yang digunakan.

Demikian temuan selama mengikuti tim Cita Tenun Indonesia (CTI), satu yayasan yang bergiat pada perkayaan warisan tekstil nasional dan pemanfaatannya, yang melakukan survei pada sejumlah lokasi perajin dan penyalur hasil kerajinan tradisional itu di Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (28/2).

Tim CTI itu juga memborong berbagai jenis kain tenun ikat yang ada di berbagai sentra kerajinan. Sebagian dari kain yang dibeli dalam jumlah banyak itu, digunakan untuk bahan kajian secara nasional di Jakarta.

Menurut Ketua Tim Kerja CTI Bali, Sjamsidar Isa, “Banyak sekali yang bisa digali dari tenun ikat ini. Masalahnya, sering perajin mendapat hasil yang sangat minim ketimbang para pedagangnya, sehingga banyak orang yang mempunyai kemahiran dalam bidang ini yang lalu banting setir ke bidang lain.”

Di “Pelangi Traditional Weaving”, Dusun Budamanis, Desa Sidemen, Karangasem, yang dikunjungi tim itu, dijumpai kenyataan bahwa banyak alat tenun bukan mesin (ATBM) yang tidak dioperasikan. Salah satu alasannya adalah karena beberapa perajin sedang menunaikan kewajiban agamanya.

“Memang begitu. Tetapi bukan itu masalah sebenarnya. Kami kesulitan modal untuk mengembangkan usaha,” kata Kartika Dewi, salah seorang pemilik usaha bidang tekstil tradisional itu.

Selama melakukan survei itu, Tim CTI didampingi perancang mode Priyo Octaviano, ahli serat Ratna Panggabean, ahli rancang interior Koes Surono, dan wakil dari PT Garuda Indonesia, Ridwan Edi. Maskapai penerbangan nasional itu bersama CTI sedang melakukan program pembinaan kelompok perajin pada 2009 di Bali.

Isa menyatakan, “Kemampuan perajin kita dalam hal ini sangat baik. Modal jelas menjadi masalah penting dan kami sedang melakukan studi bagaimana membantu mereka mengembangkan skala usahanya.”

Berbagai kain tenun dengan aneka corak, rancangan motif, dan jenis kain serta benang, mudah ditemui di berbagai sentra kerajinan di Karangasem itu. Harga jual kain hasil tenunan memakai ATBM itu juga bervariasi, mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 3.000.000 per lembar.

“Kami sering tidak bisa melayani permintaan ekspor ke Jepang. Dikirim ke sana dalam jumlah berapapun pasti bisa diserap pasar dan kami tidak mau diikat dalam kontrak. Khawatir tidak bisa memenuhi kontrak,” kata Dewi.

Jembrana.Krama Bali] 27.03.2010 18:58
Satu-Satunya Pewaris Kain Tenun Ikat Khas Jembrana

Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)

Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)

Pernikahan Adat Bali

Pernikahan adat bali sangat diwarnai dengan pengagungan kepada Tuhan sang pencipta, semua tahapan pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria, karena masyarakat Bali memberlakukan sistem patriarki, sehingga dalam pelaksanan upacara perkawinan semua biaya yang dikeluarkan untuk hajatan tersebut menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki – laki. hal ini berbeda dengan adat pernikahan jawa yang semua proses pernikahannya dilakukan di rumah mempelai wanita. Pengantin wanita akan diantarkan kembali pulang ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tua agar bisa tinggal bersama suami beberapa hari setelah upacara pernikahan.

Rangkaian tahapan pernikahan adat Bali adalah sebagai berikut:

  • Upacara Ngekeb
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
  • Mungkah Lawang ( Buka Pintu )
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
  • Upacara Mesegehagung
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
  • Madengen–dengen
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
  • Mewidhi Widana
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
  • Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.

Copyright © 2009 Pernikahan Adat
CSS Template by Rambling Soul | Blogger Templates by Blog and Web

Rumah Adat Bali

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

sumber  : http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.