Tari Pendet

Tari Pendet, Budaya Bali tidak Terpisahkan dari Ritual Hindu Rabu, 26 Agustus 2009

Penulis : Ruta Suryana

DENPASAR–MI: Tari Pendet bagi masyarakat Bali (Hindu) merupakan tari pemujaan yang dipertunjukkan di pura dalam rangkaian upacara ritual agama Hindu.

Tari dalam ritual Hindu itu sudah berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan tahun dan tidak diketahui secara pasti kapan tari ini tercipta. Yang jelas, awal kelahiran tarian ini tergolong sakral religius.

Dalam konteks kesakralan itu, tari Pendet memiliki makna sebagai penyambutan Ida Betara-Betari/Dewa-Dewi dalam sebuah perayaan ritual Hindu.

Menurut budayawan Prof Wayan Dibia, tari Pendet dibawakan secara kelompok oleh kaum putri dalam sebuah ritual Dewa Yadnya. Secara etimologi, kata pendet diperkirakan berasal dari pundut/pikul (sesajen) untuk menyongsong turunnya Ida Betara-Betari. Jadi, penari Pendet membawa sebentuk sajen.

“Jadi, tari Pendet adalah salah satu elemen budaya Bali yang tidak terpisahkan dari rangkaian upacara ritual Dewa Yadnya dalam Hindu,” jelas Dibia yang mantan Kepala Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI) Denpasar menjawab Media Indonesia, Rabu (26/8).

Sementara itu, pencipta tari Bali Ketut Rena mengatakan tari Pendet adalah murni budaya Hindu Bali. Dilihat dari gerakan-gerakannya yang simpel, tari ini bisa disebut sebagai tari dasar dari jenis tari-tarian lainnya yang lebih lengkap.

“Walau gerakannya sederhana, setiap gerak ada namanya,” ujar Rena yang sudah menciptakan sembilan tarian, antara lain tari Kembang Girang, Merak Ngelo, dan Galang Bulan.

Beberapa nama gerakan dalam tari Pendet, misalnya ada gerak ngumbang, ngelung/agem, ngegol, nyeregseg, gelatik nuut papah, nyalud, sledet, dan ngotag leher.

Dalam perkembangannya, tari Pendet selanjutnya dimodifikasi sejak 1950-an, sehingga muncul varian tari Pendet sekuler yang bisa dipertunjukkan untuk menyambut tamu.

Perintisnya adalah Wayan Rindi (alm) dan Ni Ketut Reneng (alm) asal Banjar Lebah, Denpasar. Tari Pendet hasil modifikasi ini pernah ditampilkan secara kolosal pada acara SEA Games pada 1962 di Jakarta. (RS/OL-01)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: