Tenun Ikat Bali

Tenun Ikat Bali Potensial
Sabtu, 28 Februari 2009 | 21:49 WIB.kompas.com

DENPASAR, SABTU – Kain tenun ikat khas Bali sebagai satu kekayaan bangsa masih sangat potensial dikembangkan dan dicarikan pangsa pasar untuk mendorong kegairahan ekonomi perajin, sekaligus memperkaya rancangan motif, teknik pembuatan, dan jenis tekstil yang digunakan.

Demikian temuan selama mengikuti tim Cita Tenun Indonesia (CTI), satu yayasan yang bergiat pada perkayaan warisan tekstil nasional dan pemanfaatannya, yang melakukan survei pada sejumlah lokasi perajin dan penyalur hasil kerajinan tradisional itu di Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (28/2).

Tim CTI itu juga memborong berbagai jenis kain tenun ikat yang ada di berbagai sentra kerajinan. Sebagian dari kain yang dibeli dalam jumlah banyak itu, digunakan untuk bahan kajian secara nasional di Jakarta.

Menurut Ketua Tim Kerja CTI Bali, Sjamsidar Isa, “Banyak sekali yang bisa digali dari tenun ikat ini. Masalahnya, sering perajin mendapat hasil yang sangat minim ketimbang para pedagangnya, sehingga banyak orang yang mempunyai kemahiran dalam bidang ini yang lalu banting setir ke bidang lain.”

Di “Pelangi Traditional Weaving”, Dusun Budamanis, Desa Sidemen, Karangasem, yang dikunjungi tim itu, dijumpai kenyataan bahwa banyak alat tenun bukan mesin (ATBM) yang tidak dioperasikan. Salah satu alasannya adalah karena beberapa perajin sedang menunaikan kewajiban agamanya.

“Memang begitu. Tetapi bukan itu masalah sebenarnya. Kami kesulitan modal untuk mengembangkan usaha,” kata Kartika Dewi, salah seorang pemilik usaha bidang tekstil tradisional itu.

Selama melakukan survei itu, Tim CTI didampingi perancang mode Priyo Octaviano, ahli serat Ratna Panggabean, ahli rancang interior Koes Surono, dan wakil dari PT Garuda Indonesia, Ridwan Edi. Maskapai penerbangan nasional itu bersama CTI sedang melakukan program pembinaan kelompok perajin pada 2009 di Bali.

Isa menyatakan, “Kemampuan perajin kita dalam hal ini sangat baik. Modal jelas menjadi masalah penting dan kami sedang melakukan studi bagaimana membantu mereka mengembangkan skala usahanya.”

Berbagai kain tenun dengan aneka corak, rancangan motif, dan jenis kain serta benang, mudah ditemui di berbagai sentra kerajinan di Karangasem itu. Harga jual kain hasil tenunan memakai ATBM itu juga bervariasi, mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 3.000.000 per lembar.

“Kami sering tidak bisa melayani permintaan ekspor ke Jepang. Dikirim ke sana dalam jumlah berapapun pasti bisa diserap pasar dan kami tidak mau diikat dalam kontrak. Khawatir tidak bisa memenuhi kontrak,” kata Dewi.

Jembrana.Krama Bali] 27.03.2010 18:58
Satu-Satunya Pewaris Kain Tenun Ikat Khas Jembrana

Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)

Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)Beritabali.com, Negara, Mungkin sebagian dari kita tidak percaya kalau Kelurahan Loloan Barat yang terkenal dengan komunitas muslimnya ternyata juga potensi warisan budaya berupa tenun ikat yang kini kian terlupakan. Rahmat Hidayat (30), adalah satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih bertahan di tengah serbuan tekstil buatan pabrik.

Ketika ditemui di rumahnya Jalan Masjid Mujahidin, Jumat (26/3), Ayat, sapaan akrab Rahmat Hidayat, sedang asyik bergelut dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)nya yang terletak di belakang rumahnya.

Dari ATBM yang sudah tampak lusuh itu, lahir kain tenun ikat. “Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu,” ujar Ayat memulai percakapan.

Motif kain tenun tersebut cukup bervariasi, mulai dari motif Liris, Pot-Potan, Bintang Kurung, Irisan Dodol dan Delima Manis. “Tapi motif itu tidak baku, pembeli masih boleh memesan motif sesuai keinginannya,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun ikat yang berukuran 110 cm x 120 cm, Ayat memerlukan waktu tiga hari saja dengan baderol harga Rp. 145 ribu hingga Rp. 160 ribu per lembarnya.

“Saat ini saya sedang kebanjiran pesanan namun karena saya hanya punya dua tenaga kerja sehingga setiap bulannya hanya mampu menghasilkan dua puluh lembar kain saja,” katanya. Padahal, kata Ayat, dirinya punya tujuh ATBM namun yang berfungsi hanya tiga. “Empat lainnya terpaksa nganggur karena ketiadaan tenaga kerja,” tandasnya.

Biasanya, tambah Ayat, para pembeli yang kebanyakan lokalan Jembrana memesan kain tenun ikat buatannya untuk acara pernikahan, pergi haji atau sekedar untuk oleh-oleh. “Pernah juga ada wisatawan dari Malaysia yang membeli kain saya,” aku Ayat.

Di tengah banjirnya pesanan, Ayat mengaku miris dengan keberadaan tenun ikat tersebut. Pasalnya, saat ini Ayat merupakan satu-satunya pengerajin tenun ikat yang masih tersisa lantaran yang lainnya memilih menutup usahanya karena tidak kuasa menahan gempuran tekstil pabrikan yang kini membanjiri pasaran.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang bisa menenun sehingga saya sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Kalau cari tenaga baru kan harus diajarin dulu,” katanya.

Menurut Ayat, usaha yang dijalankannya ini merupakan warisan dari kakeknya, Suni yang sudah almarhum. “Sejak tahun lima puluhan kakek saya sudah merintis usaha ini,” ujarnya. Setelah kakeknya meninggal, usaha kain tenun ikat ini diwariskan kepada ayahnya, Husin yang kini juga sudah almarhum.

“Sejak ayah saya meninggal beberapa bulan silam, saya yang meneruskannya,” tambahnya. Sejatinya, Ayat mengaku tidak berminat sama sekali meneruskan usaha keluarganya itu namun kematian ayahnya yang mendadak meninggalkan hutang pesanan yang cukup banyak. “Awalnya terpaksa karena ayah meninggal meninggalkan hutang pesanan sehingga saya harus membayar hutang pesanan tersebut,” jelasnya.

Dalam memasarkan hasil usahanya itu, Ayat mengaku tidak menempelkan merk apapun dalam kain tenun ikat buatannya. “Hanya saja banyak orang yang menyebut kain tenun ikat buatan saya itu sebagai kain tenun produksi keluarga Husin Suni, yang berasal dari nama kakek dan ayah saya,” ucapnya. (dey)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: